Piknik Ke Curug Cibeureum Sambil Jaga Alam

TheSukabumi.com – Menikmati keunikan di alam terbuka yang masih alami nampaknya akan selalu menarik untuk dilakukan siapapun. Terlebih hal itu dilakukan saat mengisi liburan dengan piknik bersama keluarga atau kerabat dekat.

Di Sukabumi, banyak pilihan lokasi wisata alam yang menjadi tujuan para wisatawan. Mulai yang letaknya di gunung, rimba, laut, pantai hingga sungai atau lebih dikenal dengan sebutan gurilaps.

Curug Cibeureum [TheSukabumiCom/Budiyanto]
Salah satunya, Curug (air terjun) Cibeureum yang merupakan primadona wisata alam di bagian utara Sukabumi. Letaknya berada di dalam rimba belantara Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Resor Selabintana, Desa Perbawati Kecamatan/Kabupaten Sukabumi.

Tinggi Curug Cibeureum ini mencapai 60 meter, dan merupakan air terjun tertinggi yang dapat dikunjungi untuk piknik para wisatawan. Untuk mencapai Curug Cibeureum yang berada di atas ketinggian 1.300 meter dari permukaan laut (m dpl) ini para wisatawan harus berjalan kaki dari pintu masuk.

Jarak dari pintu gerbang hingga Curug Cibeureum yang airnya setiap saat terus mengalir dari rimba belantara itu mencapai 3 kilometer (Km).

Kondisi jalan dengan menggunakan batu kali yang kadang di beberapa lokasi dipenuhi lumut, terutama di dalam hutan yang lebat pepohonan. Waktu tempuh pun bervariasi, namun rata-rata dapat dicapai selama 1,5 jam dengan melintasi jalanan datar, menanjak dan menurun.

Waktu tempuh yang cukup lama dan kondisi jalan yang bervariasi ini sebenarnya tidak akan melelahkan. Bila saja, para wisatawan sejak dari pintu gerbang terus menikmati alam sepanjang rute perjalanan.

Karena sepanjang rute perjalanan di dalam hutan hujan tropis pegunungan dataran tinggi ini banyak berbagai jenis satwa dan tumbuhan.

Bahkan diantaranya terdapat dari jenis-jenis satwa yang langka dan terancam punah. Seperti Owa jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata), Lutung (Trachhypitecus auratus), Macan tutul (Panthera pardus) dan lainnya.

Juga berbagai jenis tamanan langka dan dilindungi, seperti Puspa, Rasamala, dan berbagai jenis Anggrek.

”Di sepanjang perjalanan ini, banyak terdapat satwa dilindungi dan langka. Makanya akan lebih asik jalannya tidak usah terburu-buru, dan tidak teriak-teriak. Bila sepi, kita bisa berjumpa Owa Jawa, Surili, Lutung, Jelarang dan berbagai jenis burung lainnya,” tutur aktivis Volunteer Panthera, Ligar Sonagar.

Bahkan, Curug Cibeureum yang juga airnya mengalir hingga melintasi Kota Sukabumi sebelum akhirnya menyatu dengan Sungai Cimandiri dapat melihat dari kejauhan saat perjalanan.

Baca juga : Pendakian Gunung Gede Pahala Masih Ditutup

Tepatnya, para wisatawan dapat melihat dari shelter (Tempat istirahat) Panoongan. Di tempat ini, sambil istirahat bisa sambil mengamati dan menikmati suara kicauan dari berbagai jenis burung di habitat alaminya. Bisa secara langsung dengan mata telanjang atau dengan menggunakan teropong.

”Di shelter ini, para wisatawan dapat beristirahat sejenak. Bila cuaca cerah bisa sambil melihat Curug Cibeureum dari kejauhan,” jelas Ligar yang kerap memandu para pengunjung yang ingin rekreasi sambil mengenal keanekaragaman hayati.

Bila pun lelah dalam perjalanan, akhirnya akan tergantikan setelah suara gemuruh air yang terus bergantian terdengar telinga dari jarak seratusan meter.

Tepatnya saat akan melintas jembatan beton yang di bawahnya terdapat aliran air dari Curug Cibeureum. Walaupun harus berjalan melintasi tanjakan dengan batu yang licin, namun rasa lelah itu seakan-akan hilang, karena Curug Cibeureum sudah ada di depan mata dan terus terlihat sepanjang perjalanan.

Penyusuran di salah satu dari lima taman nasional tertua ini, akhirnya akan benar-benar tergantikan dan terpuaskan setelah tiba di Curug Cibeureum. Rasa lelah dan peluh keringat yang membasahi tubuh pun langsung hilang.

Apalagi, saat tiba di depan Curug Cibeureum disambut dengan cipratan air yang dingin dan membuat tubuh menjadi segar.

Namun, cukuplah menikmati air terjun dari pinggirannya, tak perlu menceburkan diri ke dalam kolamnya. Karena air yang jernih ini dimanfaatkan masyarakat pinggiran hutan untuk keperluan sehari-hari.

Rute perjalanan Curug Cibeureum. [TheSukabumiCom/Budiyanto]

Di Curug Cibeureum ini juga terdapat satu jenis kodok endemik atau hanya ditemukan di Gede Pangrango, yakni Kodok Merah atau Leptophryne cruentata.

Dalam catatan lembaga konservasi dunia, statusnya sudah termasuk terancam punah. Sekarang saja, sudah sulit ditemukan, dan masih terus diamati,

”Makanya kita semua harus ikut menjaganya Curug Cibeureum ini,” jelas Ligar yang sempat mengenyam pendidikan di IPB Bogor.

Sementara mengenai sejarah penamaan Curug Cibeureum ini terdapat dua sumber, dari cerita masyarakat dan secara kajian ilmiah. Dari cerita masyarakat penamaannya berkaitan dengan masa pemberontakan DI/TII.

Bahwa di atas Curug Cibeureum itu dijadikan sebagai lokasi penyembelihan orang-orang yang diculik para pemberontak. Sedangkan berdasarkan ilmiah, nama Cibeureum itu mengacu pada jenis lumut berwarna merah (Spagnum gedeanum) yang tumbuh dan mudah dilihat di tebing air terjun. Juga jenis lumut merah tersebut merupakan endemik Gede Pangrango.

Kabut menyelimuti di rute Curug Cibeureum. [TheSukabumiCom/Budiyanto]
Berada di Curug Cibeureum ini tidak perlu berlama-lamaan, karena kondisi udara yang dingin, juga kondisi cuaca yang biasanya tidak menentu.

Walaupun musim kemarau, namun bisa saja tiba-tiba di rimba belantara Gede Pangrango ini turun hujan. Karena memang, kawasan hutan yang dikelilingi Sukabumi, Cianjur dan Bogor ini termasuk hutan hujan tropis pegunungan.

Dan juga tentunya harus mengikuti petunjuk pengelola atau berjalanlah didampingi pemandu agar rekreasi di alam bebas menjadikan pengalaman dan mendapatkan pengetahuan.

Serta sampah dari makanan dan minuman harus dibawa kembali. Bila dibuang sembarangan, selain mengotori, tentunya bila dimakan satwa liar dapat mengancam keberlangsungannya.

Mari kita pilih piknik, rekreasi sambil terlibat menjaga alam alami tersisa ini.

Lihat juga video ini :

 

Facebook Comments