Lansia Ngambil Air Lintasi Jalanan Licin

SUKAMANIS, TheSukabumi.com – Masyarakat desa di pinggiran hutan gunung Gede Pangrango ternyata masih terdapat yang belum menerima manfaat sumber air bersih secara optimal.

Padahal rimba belantara tersisa ini merupakan hulu air yang menghasilkan air bersih nan jernih. Airnya mengalir melalui sejumlah anak sungai hingga ke laut lepas.

Salah satunya dialami masyarakat di Kampung Taman di Desa Sukamanis, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bahkan hal ini sudah berlangsung secara turun temurun.

Masyarakat yang terletak di daerah punggungan ini memanfaatkan air bersih dengan mengambilnya dari sumber yang cukup jauh. Mereka harus rela berjalan kaki dengan kondisi jalanan menurun dan licin.

“Sudah turun temurun, kami memanfaatkan air dari sumber air dari selokan dan mata air,” ungkap Nurlela (36) seorang ibu rumah tangga saat berbincang dengan TheSukabumi.com selesai mengambil air, Rabu (18/7/2018).

Baca juga :

Dia menuturkan untuk keperluan air minum dan memasak sumber airnya dari pipanisasi yang berasal dari mata air. Sedangkan untuk mandi, cuci dan kakus mengambil airnya dari selokan.

“Kalau sebelumnya ngambil air bersih langsung dari mata airnya, dan lebih jauh,” ujar dia.

“Kalau kemarau seperti sekarang jalannya gak licin, kalau hujan sangat licin dan harus hati-hati bisa kepeleset,” sambungnya.

Seorang ibu rumah tangga lainnya, Yopi Aisyah (27) mengatakan setiap hari mengambil air sedikitnya dua kali, pagi dan siang atau sore. Air bersih diambil dengan menggunakan kompan atau jerigen dengan ukuran 5 liter.

“Sekali mengambil air bersih ini bisa dua sampai empat kompan,” kata Aisyah.

“Kami juga mandi dan mencuci baju atau piring juga di sini,” ujar dia sambil menunjuk ke tempat mandi dengan dinding terbuat bilik bambu.

Sarana mandi, cuci dan kakus di tengah persawahan yang dimanfaatkan warga. TheSukabumiCom/Budiyanto

Menurut dia setiap hari warga di kampungnya memanfaatkan sumber air bersih dan tempat mandi umum. Makanya kalau pagi atau sore yang akan mandi harus antre.

“Makanya saya cari waktu kosong untuk mencuci biasanya siang sebelum waktu ashar. Kalau sudah ashar kembali harus antre,” ucapnya.

Tokoh masyarakat kampung setempat, Asep Saefullah menuturkan masyarakat memang sangat membutuhkan sekali sarana air bersih dengan tempat mandi, cuci dan kakus (MCK) untuk umum di permukiman.

Di kampungnya ini sangat kesulitan untuk membuat atau menggali sumur. Karena lokasi perkampungan berada pada punggungan dengan ketinggian sekitar 700 – 900 meter dari permukaan laut (m dpl)

“Selama ini untuk keperluan MCK harus ke bawah (lembah) yang jaraknya cukup jauh. Karena kampung kami ini terletak di punggungan,” tutur Asep.

Dia sangat mengkhawatirkan warga yang sudah lanjut usia (lansia) bila pergi ke air. Karena jalan menuju tempat mandi umum dan sumber air cukup terjal.

“Kalau sekarang musim kemarau ya tidak terlalu licin, kalau musim hujan sangat licin, Saya khawatir sama warga yang sudah lansia,” katanya.

Lihat juga :

Selain Kampung Taman, Kepala Dusun Babakankembar, Aim mengungkapkan ada beberapa kampung yang mengalami hal sama. Antara lain Kampung Babakankembar, Ciilateun, Mancagar dan Cipokel.

“Warga masih memanfaatkan air bersih dari selokan yang bersumber dari mata air, karena di sini sulit untuk membuat sumur, daerahnya dipunggungan,” kata Aim.

Aim memaparkan di wilayah dusunnya terdapat 8 RT dengan jumlah kepala keluarga (KK) mencapai 480 KK meliputi 1.500 jiwa.

Semoga harapan masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani, buruh tani ini cepat terwujud. Ada para donatur yang memberikan donasinya, terutama untuk membangun tempat MCK dengan sarana air bersih dan sehat. 

Facebook Comments